Kata ‘loman’ merupakan kata bentukan dari kata ‘lomå’ yang bermakna suka memberikan sesuatu kepada orang lain dengan tulus. Nama sesungguhnya, sesuai dengan yang tertulis di SK, adalah Lukman. Tetapi, karena sifatnya memang demikian, kami memanggilnya Pak Loman. Ini penjelasan kepala kampung, Pak Josef,. Pak Josef pernah kuliah di Yogya.
Pada suatu hari, pak guru Loman mendapat giliran ke kota mengambil gajinya dan gaji kawan-kawan guru yang lain. Memang seperti itu, cara mengambil gaji para guru yang bertugas di pedalaman.
Mereka berpatungan membiayai satu orang yang berangkat ke kota secara bergiliran tiap tiga bulan sekali. Karena lokasi mereka jauh di pedalaman dan satu-satunya transfortasi yang tersedia hanyalah speed boat milik Toke Acok. Itu pun tidak bisa pulang hari. Speed boat akan kembali ke kampung esok hari berikutnya. Ongkosnya sekitar satu bulan gaji.
Seperti juga yang lain, sore itu pak guru Loman belanja keperluan sendiri dan titipan kawan-kawannya. Syukurlah, sekarang tidak perlu ke mana-mana lagi. Semua yang dicari sudah tersedia dalam satu mall. Memang harganya sedikit mahal. Tetapi, jika dihitung dengan ongkos kendaraan, nilai total kurang lebih sama.
