Saya tidak ikut menangis, sekalipun berada dalam dua momen itu. Saya mengikuti pendirian, pengembangan, dan menyaksikan pengebumian Club Menulis. 10 tahun perjalanan, lebih dari 6 kali pindah ruangan. Berpuluh kali launching. Ratusan anggota sudah terdaftar dan gugur. Ratusan buku dihasilkan dan dipromosikan. Puluhan ilmuan dan tamu manca negara datang berkunjung. Banyak alumni sudah jadi kebanggaan.
Lika-liku organisasi ini hampir semuanya saya ketahui. Beberapa buku ditulis untuk mendokumentasikan proses itu. Dan, saya juga tahu lingkungan di mana Club Menulis hidup dan berada.
“Club Menulis mungkin memang sudah waktunya ditutup. Club sudah dilihat seperti virus. Parasit yang perlu dimusnahkan… Lihat, beberapa tahun ini Club memang tidak penting. Sekalipun, baru kemarin saya dihubungi, dipinjami piala untuk akreditasi”.
“Club boleh tutup, tetapi, kita tetap menulis. Kita tetap berkarya. Inilah cara untuk eksis, untuk ibadah, sesuai dengan minat dan keterampilan kita. Jangan cengeng. Mungkin mereka senang melihat kita mati. Tapi, kalau kita ikut mati, kita yang rugi sendiri. Ayo, semamgat. Targetkan setiap minggu menulis, atau setiap tahun ada buku dihasilkan”.
Saya berusaha memecahkan keheningan. Memberikan motivasi sebisanya. Berlagak bijak, walaupun sebenarnya saat menyebutkan parasit… saya seperti ingin meledak, ingin menumpahkan perasaan.
