Sempat merasa nyeri di bagian yang terbentur, tapi rasa nyeri itu kemudian berangsur hilang, diredam oleh celana panjang Levi’s yang sudah lembab. Aku lanjutkan menapaki batu-batu berikutnya, kali ini dengan ekstra hati-hati.
Sesampainya di titik istirahat, sekitar 7-8 orang sudah dalam posisi siap: kaki memasang kuda-kuda, kedua tangan masing-masing memegang tali tambang yang diikatkan di bagian depan perahu. Aku tidak mau ketinggalan. Mengambil posisi di tengah, aku ikut menarik perahu.
“Satu… dua … tiga … tariiikkk…!”
Suara kami menghitung serentak, menambah semangat dan tenaga menarik perahu. Terus begitu, berulang kali. Sekitar 15 menit, perjuangan menarik perahu dari Riam Bakang berhasil. Kami istirahat sejenak, sambil minum kopi bersama. Aku mengambil posisi duduk sambil menyelonjorkan kaki yang kembali nyeri.
Hendri, polisi hutan (polhut) Balai TNBK yang menyertai perjalanan kami, duduk di sampingku. Dengan seksama ia memperhatikan bagian lutut kiri celana jinsku. Ternyata ada bercak darah.
“Bang, coba cek lututnya, mungkin ada yang luka,” saran Hendri, dengan nada kuatir.
“Tidak apa Bang, paling ini lintah,” jawabku, mencoba menenangkan diri, sambil mulai menggulung bagian bawah celana jins hingga ke lutut.
