Beberapa kali aku bisa menolak secara halus untuk tidak minum, mengikuti saran Hermas, Zulkifli, atau Lasah, teman di WWF yang biasanya menemaniku menghadiri acara adat ini. “Abang tegaskan saja kepada panitia bahwa Abang muslim. Tegaskan juga kalau Abang sedang kurang sehat dan sudah minum obat sebelum datang ke acara,” begitu saran mereka bertiga. info minum obat ini tentu saja harus sedikit berbohong, he he he.
Cara ini cukup berhasil, karena sebagian besar panitia sangat menghormati dan menjunjung tinggi toleransi atas perbedaan agama dan keyakinan di antara kami. Mereka respek begitu tahu aku seorang muslim. Perlakuan yang sama mereka terapkan juga kepada para tamu lainnya yang muslim.
Namun satu pengalaman pergi ke suatu acara ketika mengantarkan tamu dari Jakarta memberikan pelajaran baru bagiku. Pada bagian penerimaan tamu, panitia yang masih muda dan mendapat tugas menyajikan minuman tuak sebagai sajian pembuka kepada tamu yang hadir, memaksaku untuk minum tuak. Walaupun sudah kukatakan bahwa aku seorang muslim, mereka tetap berkeras. Syukurlah waktu itu ada Zulkifli yang membawa mobil mengantar kami ke acara tersebut. Zul menawarkan kepada panitia untuk meminum segelas tuak yang semula disajikan untukku. Beres, ada solusinya untuk saat itu.
