Dalam perjalanan pulang aku lalu berpikir, harus ada solusi setiap menghadiri acara adat di tempat lain agar tidak terjadi ketegangan seperti yang baru saja aku alami. Ini berpotensi bisa merusak acara yang sakral bagi masyarakat tersebut. Ketika singgah ke pasar Putussibau mendampingi tamu membeli oleh-oleh sebelum mereka kembali ke Jakarta, terlihat olehku jejeran botol sirup. Aha. Warna sirup rasa leci itu yang membuatku tersenyum lebar, karena mirip sekali dengan warna minuam tuak.
“Wah, benar juga Bang. Abang bisa bawa sirup leci ini kalau kita menghadiri acara adat. Nanti saya yang atur, kalau pas giliran Bang Herma yang disuguhkan minuman tuak, bisa pakai sirup ini. Tuak rasa leci ya Bang,” kata Zul, sambil tertawa di mobil yang membawa kami ke Bandara Pang Suma Putussibau, mengantar para tamu kami terbang ke Pontianak.
Dua botol sirup rasa leci aku simpan di kantor. Beberapa minggu kemudian, undangan menghadiri acara adat kembali datang ke kantor. Kali ini aku tidak perlu lagi berbohong minum obat kepada panitia untuk menghindari minuman tuak.
