Adalah seorang anak muda bernama Beni Thanheri. Dia alumni Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura. Ia pegiat sosial masyarakat dengan episentrum lingkungan hidup. Di tangannya yang bungas, dia berhasil menghidupkan Kampung Mendawai–tepian Kapuas dengan kearifan lokal memproduksi caping atau bahasa lokal setempat memproduksi tudong. Tudong telah menghidupi masyarakat setempat turun-temurun. Dari generasi ke generasi.
Sentuhan bidas Beni Thanheri menggeliatkan pandangan mata pemerintah dan tokoh masyarakat lokal. Lebih dari 20 stakeholder turun tangan. Rumah tua yang hendak roboh pun telah dipindai dengan perwakafan.
Kini rumah tua itu hendak dibangun sebagai Rumah Budaya Kota Pontianak. Di sebelahnya ada tanah wakaf yang lain lagi dan hendak dibangun sebagai Rumah Tahfidz.
Mendawai sangat dekat dengan wakaf pendidikan terbesar kawasan Kampung Bangka, yakni Perguruan Islamiyah. Di sana telah lahir banyak ulama maupun cerdik cendikia. Bupati Kubu Raya, Muda Mahendrawan, SH salah satu alumninya.
Mekanisme wakaf dilirik Beni Thanheri dengan bekerjasama dengan Badan Wakaf Indonesia (BWI). “Saya melihat BWI bisa bantu mengaktifkan orang berwakaf, sehingga banyak proyek sosial bisa diselesaikan di Kampong Tudong si Kampong Caping Mendawai.”
