Asmir Agoes yang merupakan anggota Dewan Pembina, pengambil keputusan strategis Bina Antarbudaya/AFS Indonesia mengecek juga salasilah Sultan Hamid kenapa cakep dan berpostur seperti Eropa. Saya sebut Allahyarham hibrid dari Arab, Dayak, Bugis dan Turki. Asmir juga tanya soal Westerling dengan APRA-nya. Saya jawab dengan putusan MA tahun 1953. Bahwa tuduhan makar lewat pemberontakan APRA di Bandung, 23 Januari 1950 tidak cukup bukti. Sehingga Hamid dibebaskan dari tuntutan primair tersebut. Frase pengkhianat mesti dihapus dari seluruh buku sejarah Indonesia. Sebab memang zero pengkhianatan darinya.
Saya jelaskan detil isi buku yang diterbitkan persatuan djaksa (cetakan 1 tahun 1953, cetakan kedua tahun 1955). Buku ini saya janjikan untuk dikirimkan ke Asmir. Sekaligus buku biografi Sultan Hamid II Alkadrie yang kami tulis bertiga: Anshari Dimyati dan Turiman Faturahman Nur. Juga buku Genocide Mandor yang merupakan bunga rampai, diterbitkan Borneo Tribune Press.
Asmir Agoes sebagai pakar ICL di Indonesia yakin kebenaran akan tersingkap. Sebagaimana dia di tahun 1961 terbelalak menyaksikan acara TV AS di mana Presiden John F Kennedy bisa dikritik keras oleh rakyatnya. Sementara tahun 1961 di Indonesia tabu. Begitu masa Orla begitupun masa Orba.
