Kedua, Keeratan antara Masjid dan Kaum Muslimin. Jalur perjalanan Rasulullah pada peristiwa Isra Mikraj dari masjid ke masjid menunjukkan hubungan antara masjid dan kaum muslimin adalah sesuatu yang tak dapat dipisahkan, keberadaan masjid menjadi pengeksisan diri seorang muslim. Indonesia sebagai negara bermayoritas muslim akan ditemukan bangunan-bangunan masjid dihampir seluruh penjuru. Ini menunjukkan bahwa masjid merupakan salah satu simbol keislaman. Tempat suci untuk melaksanakan ritual ibadah dengan beragam bentuk arsitekturnya tersebut akan makmur dan diakui keberadaannya jika kaum muslimin sekalian salat berjamaah di dalamnya, terutama bagi muslim laki-laki. Namun, sebaliknya apabila salat dilalaikan, masjid tak ubahnya seperti rumah tua kosong yang tak berpenghuni.
Ketiga, Pengingat Sejarah Islam. Sebagian umat Islam yang memperingati Isra Mikraj dengan berbagai bentuknya, entah itu mengadakan kajian keislaman, perlombaan keislaman, atau lainnya. Semua itu dimaksudkan untuk mengingat kembali sejarah silam yang pernah terjadi. Dengan harapan kaum muslim sekalian tidak mengabaikan begitu saja peristiwa bersejarah yang terdapat dalam Isra Mikraj, sekaligus mendulang semua makna yang terdapat di dalamnya.
Isra Mikraj dalam Kacamata Psikolog
Menyelisik kandungan makna pada peristiwa Isra Mikraj dari sudut pandang psikologi dapat kita perhatikan pada pernyataan yang disampaikan oleh Dr. Hj. Fitri Sukmawati selaku dosen Psikolog IAIN Pontianak saat bertatap muka dengan penulis berikut ini.
