Oleh: Juharis
Memikirkan sesuatu yang tak terpikirkan adalah ketakmungkinan, begitu juga membenarkan sesuatu yang belum didapati hakikat kebenarannya adalah kesalahan. Dari sini kita sudah dapat menarik benang merah bahwa peran seorang guru mulai timbul. Standar baik-buruk, benar-salah, patut-tidak patut kita dapatkan dari seorang guru. Bisa saja kita mendapatkan standar itu dengan hasil kontemplasi kita sendiri, tapi yang timbul adalah relativisme karena kita belum menemukan titik temu kebenaran yang sesungguhnya. Ini bukan bicara filsafat yang mendalam, tapi seorang guru yang mengajarkan pengetahuan baru kepada anak didiknya.
Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin Rahimahullah dalam Kitabul ‘Ilmi menjelaskan bahwa seorang penuntut ilmu hendaknya memiliki guru dan tidak membiarkan dirinya belajar sendiri tanpa bimbingan (Islampos.com). Ini adalah konsekuensi dari seorang pembelajar yang ingin belajar untuk mengetahui sesuatu yang telah diketahui (guru). Guru adalah yang mengetahui sementara seorang pembelajar adalah yang ingin mengetahui. Manakala seorang pembelajar tidak memiliki guru maka ini sangatlah disayangkan, kalangan sufi pernah mengatakan “Barangsiapa yang tidak punya guru, maka gurunya adalah setan.”
