Featured

Intan Hitam Perbatasan (2): Dibutuhkan Figur Pejuang Inovatif

Intan Hitam Perbatasan (2): Dibutuhkan Figur Pejuang Inovatif
Ayu, paling kanan bersama Biro Perencanaan BNPP, Mira di pasar rakyat Entikong, Rabu, 18/10/18.

Ayu tampil berdiri di muka pintu. Sebelumnya ia sudah dihubungi Kepala Biro Perencanaan Badan Nasional Pembangunan Perbatasan, Mira bahwa dirinya akan mampir ke gerai KUB. Dengan cekatan pula Ayu masuk ke dapur dan menyiapkan satu teko kopi panas. Kala itu dia mengenakan seragam korpri. Batik warna biru.
“Ini Nuris kan?” Ayu bertanya seraya menuangkan kopi ke cangkir satu per satu. Saya mengiyakan, dan teringat pertemanan saat kuliah di kampus hijau Universitas Tanjungpura seperempat abad silam. Ayu punya nama panggilan akrab Nyit-Nyit. Mungkin karena dia aktif seperti burung pipit dan terampil cuat-cuit. Hehehe….Kami baru bersua setelah tamat studi S1 pada Rabu, 17/10/18.

“Saya sudah menjadi PNS di Kecamatan Entikong 19 tahun. Sebelumnya dinas di Kalbar wilayah utara,” kata Ayu. Sementara saya sejak mengeduk ilmu pertanian di kampus sudah aktif di bidang pers. Seusai kuliah pun berkhidmat di bidang jurnalistik.

Di gerai KUB Bageri inilah saya semakin menyadari kekayaan “intan hitam” perbatasan. Yakni lewat nikmatnya racikan kopi lada hitam maupun kopi jahe merah, dua produk yang sudah dipatenkan Ayu bersama sanggar binaannya. Sekaligus terbayang, jika para alumni seenerjik “Nyit-nyit” maka dalam membangun Borneo Barat tak terperi hasilnya. Termasuk pembangunan ekonomi wilayah perbatasan.