“Komoditas pertanian di pebatasan sesungguhnya luar biasa. Butuh inovasi dari kita untuk meningkatkan nilainya,” kata Ayu yang baru saja pulang dari Pendopo Gubernur di mana Wakil Gubernur, Ria Norsan pun kepincut dengan citarasa kopi lada hitam maupun kopi jahe merah buah tangan pengrajin di kawasan perbatasan Entikong.
***
lada adalah komoditas primadona di kawasan perbatasan. Harga tertinggi bisa mencapai Rp 110.000 per kilo. Tapi kini di tengah harga dolar dan rupiah bagaikan langit dan bumi (kurs 1 dolar = 15.000), harga lada pun terjun bebas. Per kilo hanya dihargai Rp 20.000/kg.
“Kalau 50.000 per kilo masih lumayan, kami bisa merawat kebun. Kalau 20.000 hanya bisa buat menanak nasi di dapur,” ungkap ibu-ibu di sekolah PAUD Kipet Abdurrahman, Desa Puntikayan, Kecamatan Entikong.
“Pohon lada banyak yang mati,” sambung ibu-ibu lainnya. Kondisi semakin terpuruk karena di border Jiran, petani Malaysia juga panen raya lada. Kualitas lada Malaysia lebih baik karena sistem pertanian dan kredit tani mereka lebih lunak. Mutu SDM Malaysia juga tinggi ketimbang Indonesia.
Ayu tidak hanya PNS biasa yang bekerja di Kantor Kecamatan. Dia membina ekonomi warga, termasuk pendidikannya. Di dalam dadanya bergejolak sang dwi warna: merah-putih.
