Featured

Intan Hitam Perbatasan (2): Dibutuhkan Figur Pejuang Inovatif

Intan Hitam Perbatasan (2): Dibutuhkan Figur Pejuang Inovatif
Ayu, paling kanan bersama Biro Perencanaan BNPP, Mira di pasar rakyat Entikong, Rabu, 18/10/18.

“Karena berpikir bahwa nasionalisme kebangsaan kita tidak hanya dibangun secara fisik seperti gedung border yang megah, juga sumber daya manusianya, sehingga dengan mutu sumber daya yang bagus, mereka bisa mengolah sumber daya alam sehingga bernilai ekonomi tinggi,” lanjut Ayu.

Untuk itulah Ayu — mengutip Bahasa Melayu Pontianak “sehhe” membangun PAUD Kipet Abdurrahman. Jaraknya sekira 6 km dari pusat kecamatan. Belum ada listrik.

“Tujuan saya membangun PAUD agar sejak dini anak-anak ditanamkan semangat belajar. Itu saja,” timpal Ayu enuh vitalitas.

Sepanjang 6 km menelusuri lekuk perbukitan kondisi jalan sudah bagus tersentuh pembangunan. Aspal mulus, dan beberapa lokasi terdapat pengairan yang mengaliri sawah. Beberapa got perkampungan sudah rabat beton sehingga kehidupan dusun lebih rapi dan bersih. Infrastruktur dasar listrik saja yang belum menyentuh Puntikayan yang kaya akan tanaman lada.

“Kami jumpa Bapak Bupati Paulos Hadi. Dia tanya bagaimana jalannya? Kami jawab sudah aspal Pak. Oh itu saya tahu, katanya. Yang belum ada listrik Pak. Nah, ini saya belum tahu,” cerita warga.
Nilai dolar selangit berimbas kepada petani karet dan sawit. Harga per kg susut Rp 500/kg. Normalnya Rp 900 – 1.200/kg. Terbayang kesulitan hidup di kalangan petani perbatasan.

***