Kuliner

Ikan Sembelang

Ikan Sembelang

“Tak apa, saya mau. Pilihkan jak Buk!”
Kata saya dari pinggiran jalan. Saya tak berani merapat. Air pasang agak tinggi tadi, boxnya masih di atas sampan. Salah perhitungan bisa nyebur, basah kuyup.

Dipilihkannya ikan sembelang, ada yang sebesar 3 jari, 4 jari. Ikannya mirip lele. Bahasa suami saya, lele laut.

Setelah ikan ditimbang, baru saya bingung. Kan saya harus kerja seharian. Ikannya harus saya simpan di mana? Di kantor tak ada kulkas. Mau putar balek pulang ke rumah Teluk Nangka, tak mungkin. Tak cukup waktu. Bisa-bisa kesiangan saya sampai di kantor.

“Buk, saya boleh titip ikannya? Nanti pupang kerja saya ambil”, kata saya.

“Boleh…titip sinik jak, Ibu belikan es batu jak di warong tu!”, kata Bapak-bapak yang masih belum selesai menyiang ikan yang dibelinya. Saya ikuti saran itu.
Sepulang kerja, saya mampir mengambilnya.

Sebenarnya kalau pagi sekali saya ke sana, masih banyak pilihan ikannya. Mau yang ukuran besar juga ada. Tapi, karena sudah lambat, dapat sisa pilihan orang.

Di ujung perjumpaan, tuan rumah menawarkan akan sms saya kalau ada dapat ikan. Tentu saja saya girang bukan kepalang. Ini yang saya tunggu. Dapat info langsung dari nelayan.