Usai shalat jumat, ketemu dan ngobrol dengan ustadz H. Surahuddin imam dan Ketua Masjid Batu, dan Ust. Ramdani sekretaris masjid yang kebetulan Beliau Khatib shalat pada hari itu. Sebagaimana pada umumnya, pak Imam dan sekretaris juga hanya banyak cerite tentang Guru Haji Ismail Mundu saja, tidak ada informasi yang cukup dan memadai tentang jejak Syekh Daeng Abdul Karim. Namun pak Imam hanya memberi informasi bahwa maqam ayahnya Guru Haji Ismail Mundu ada di Sui Kakap Parit Lintang atau parit Habibah.
Masjid Batu atau nama sebenarnya adalah masjid Nashrullah yang dibangun oleh Guru Haji Ismail Mundu pada tahun 1926, mulai ditempati shalat jumat tahun 1929. Di masjid inilah pusat kegiatan dakwah dan keagamaan, termasuk pengajian.
Dalam buku “Guru Haji Ismail Mundu (Ulama Legendaris dari Kerajaan Kubu) karya Ust. Baidillah Riyadhi disebutkan bahwa Guru Haji Ismail Mundu menulis delapan karya kitab, yaitu Terjemah dan Tafsir al-Qur’an Berbahasa Bugis, Ushul at-Tahqiq, Mukhtashar al-Mannan ‘ala al-‘Aqidah ar-Rahman, Jadwal Nikah, Majmu’ al-Mirats, Konsep Khutbah Bulan Shafar dan Jumad al-Akhir, dan Kitab Dzikir Tauhidiyah. Kitab-kitab inilah yang diajarkan dalam pengajian di masjid Batu, termasuk Tafsir al-Qur’an.
