Masyarakat Sambas misalnya, tersebar beberapa mitos yang diyakini tidak sedikit orang. Saya sebagai penulis, di masa kecil sering mendengar mitos ini. Dan di masanya, juga pernah mempercayai akibat pengaruh orang-orang sekitar. Namun, seiring berjalan waktu dan pembelajaran yang semakin mendalam akhirnya kepercayaan tersebut disadari adalah sekadar sebuah kepercayaan gaib.
Mungkin ada banyak, tetapi yang akan dituliskan di sini hanya sedikit: tiga saja. Sesuai yang saya alami sendiri.
Pertama, wanita hamil dilarang keluar rumah melihat gerhana.
Wanita yang sedang mengandung anak sangat disayangkan ikut menyaksikan fenomena yang hanya terjadi satu dua kali dalam setahun ini. Pasalnya, diyakini akan membuat anak yang lahir kelak badannya timbul bercak-bercak semacam tompel. Berikut sedikit gambaran percakapan larangan dalam dialek Sambas.
“Kitak yang bunting ye usah nak keluar rumah mun pas gerhane. Kalak anak kitak yang dalam parut ye badannye itam-itam. Daan pakai dikerajekan, bagus nogok di rumah ajak.”
Lazimnya tompel ini disebut tanda lahir. Terlepas benar atau tidak, jika kita saksamai dari sesi medis sebenarnya tanda lahir terjadi akibat pembuluh darah tidak tumbuh normal atau disebabkan pigmen tambahan pada kulit. Ada dua jenis tanda lahir: tanda lahir vaskuler dan tanda lahir berpigmen (alodokter.com).
