“Mun pas gerhane, ade batang mangga yang laki daan buah. Bagus kitak guyuk kuat-kuat supaye die bebuah labat.”
Ada satu dua orang warga di sekitar rumah saya ketika itu pernah mengguncang pohon mangganya. Di masa kecil, saya juga pernah ikut-ikutan karena tidak tahu-menahu mana mitos mana bukan. Haha
Mitos ini agaknya berlebihan. Karena barangkali berada di luar nalar manusia. Kepercayaan ini mungkin turun-temurun diwariskan dari kepercayaan nenek moyang dahulu kala.
Sebenarnya mangga yang tidak berbuah bisa ditanggulangi. Apalagi sudah berada di umur produktif, sekitar 1,5 – 3 tahun. Caranya adalah dengan memberikan perlakuan khusus yaitu pemangkasan, memberikan luka pada batang, melengkungkan batang, pelilitan batang atau pencekikan, memberikan fosfor dan protein tinggi, serta pemberian zat pengaturan tumbuh (infoagribisnis.com).
Itu beberapa mitos yang saya alami sendiri dan masih diingat hingga hari ini. Bisa jadi pembaca, khusunya yang berasal dari Sambas memiliki pengetahuan yang lebih banyak tentang mitos seputar gerhana. Itu lumrah dan sah-sah saja. Pada dasarnya tulisan ini sekadar berangkat dari pengalaman empiris saya sebagai penulis.
