Seorang pemberantas korupsi yang sangat getol dan berniat untuk membasmi hingga ke akar-akarnya tentulah akan membuat kegerahan yang amat sangat bagi “mereka” yang melindungi kasus-kasus korupsi untuk tetap disimpan rapat. Berbagai skenario dan settingan pun dirangkaikan dengan sangat apik dan indah. Hasilnya adalah berbagai upaya penyerangan, pelemparan issue, fitnah, celaan dan sebagainya terhadap sosok Anies yang tentu akan mendukung sepenuh hati dan meloloskan cita-cita teguh dari sepupunya itu.

Ingatkah dulu, propaganda terhadap Anies Baswedan sempat dilayangkan oleh para buzzer bahwa beliau pernah terlibat kasus korupsi saat diamanahkan tanggungjawab sebagai menteri di kabinet bapak Presiden Joko Widodo dan wakil Presiden Jusuf Kalla? Begitulah cara melemparkan bola panas, dilemparkan ke tempat yang bukan seharusnya, agar tangan sendiri tidak terbakar.

Lalu apakah kaitannya hal itu dengan keberadaan Sultan Hamid II yang berjasa bagi negara ini jauh sebelumnya atau di masa awal lahirnya Republik Indonesia ini? Mari kita renungkan dengan keilahian yang hadir di dasar hati paling dalam atau qalbu kita. Itu semua adalah kode alam. Kode dari Sang Maha Kuasa, dalam sila pertama berlambang bintang bersudut lima ‘nur-cahaya’, Ketuhanan Yang Maha Esa.

Bukankah kemerdekaan bangsa ini berkat Tuhan Yang Maha Esa? Artinya, kita rakyat Indonesia harus percaya kepada pesan yang disampaikan oleh sang pencipta alam semesta ini. Ingat sila-sila Pancasila mengingatkan diri kita pada lambang negara Garuda Pancasila.