Jadi mengapa kita begitu takut dengan putera Indonesia keturunan Arab, khususnya yang masih hidup, sosok Baswedan itu? Dari zaman Sultan Hamid II sampai zaman Munir Said Thalib dan Novel Baswedan? Orang orang pemberani dan amanah seperti mereka selalu menjadi ancaman. Disengaja atau tidak, karakter seperti mereka itu telah disia-siakan dan dikorbankan untuk menjadi benteng dan pondasi bagi marwah negara ini untuk tegak berdiri.
Mengapa harus mencurigai para anak bangsa Indonesia keturunan Arab?
Apakah mereka ikut menikmati remah remah kue hasil korupsi? Ataukah kue korupsi justru merupakan sari-sari gizi bagi tubuh rakyat-rakyat kecil, sehingga kita pantas untuk melindunginya?
Lalu mengapa generasi millenial “zaman now” di negara ini begitu bangga dan menikmati kondisi pembentur-benturan antara anak bangsa Indonesia yang keturunan Arab dan keturunan Tionghoa? Kenapa ya? Lahir istilah yang tidak bermarwah: cebong, kadrun? Masya Allah. Tidak tega ini terjadi di kalangan milenial penerus “zaman next”.
Apakah kalian dan kita semua ini tidak lelah dan sedih menyaksikannya?
Dua saudara saling diadu domba di depan mata kita. Kita justru ikut memanas-manasi situasi atau menjadi dua kutub yang seolah-olah saling bermusuhan?
Tidakkah kita berfikir dan menyadarinya, bahwa kita itu sudah menjadi target bagi mereka untuk diseret-seret dalam masalah yang mereka design? Melalui ketidakharmonisan negeri ini, mereka dapat menutupi kasus-kasus korupsi di negara tercinta ini dan tetap menjadikannya tradisi?
Mestinya, kita sebagai generasi milenial yang kekinian menyadarinya. Kenapa kita diseret-seret dalam arus perseteruan antarkelompok-kelompok tertentu dan negeri ini dibuat untuk tetap tidak damai, diciptakan siasat adu domba antar kelompok masyarakat?
