Sudah lama saya perlahan berinteraksi dengan “generasi terpinggirkan”. Awalnya di forum-forum kajian remaja masjid di kampung-kampung, lalu coba berbicara dengan mereka yang memang hidup di jalan.
Masalahnya mendalam,
Rumah sempit, tidak nyaman, saudara banyak, tetapi naungan pendidikan dari keluarga tidak ada.
Di sebagian kampung malah ibu atau bapaknya kerja di luar negeri. Sebagian anak bahkan diurus oleh nenek kakek yang serba terbatas.
Dari segi perhatian kehangatan keluarga hampir tidak ada.
Dari segi kemampuan ekonomi juga terbatas. Mau sekolah tinggi terhambat. Mau sekolah yang berkualitas adanya “sekolah negeri”. Ya begitu, gak semua sekolah negeri sesuai harapan.
Kita sama-sama tahu. Isi 1 kelas buanyak, materi kurikulum seabreg. Para guru sudah empot-empotan ngajar, tetap aja gak masuk. Yang ini kita bahas di tulisan berbeda.
Mau sekolah tinggi kan gak bisa, akhirnya harus putus di SMA. Atau bahkan gak lanjut SMA. Selesai di SMP.
Ijazah segitu gak bisa buat cari kerja layak, bahkan gak dapat kerja. Kalo lowongan cleaning service aja ijazah S1 masuk, gimana yang SMP mau bersaing.
Akhirnya buntu. Jadi kuli kasar lagi. Jadi tenaga kasar lagi. Sama kayak orang tua mereka. Muter siklusnya.
Tapi hari ini tambah berat, beratnya di gempuran informasi.
