Gadget ada, kuota murah. HP dan Youtube nya bukan barang mahal. Yang dilihat adalah para youtuber muda yang mobilnya mewah, bagi-bagi duit, hidup enak, collabs sama yang bening-bening, ini generasi pinggiran tambah murka.
Ujungnya, sebagian generasi yang umurnya mungkin sama kayak kita, sekarang lagi jadi generasi ngambek, generasi yang menyimpan kekesalan, generasi pupus harapan.
“Omong kosong bisa hidup bener lah kalo begini, udah nasib, pemerintah gak bisa diharapin, orang kaya juga gak bakal peduli, ya udah, hukum rimba lah,”
Akhirnya kerja kuli nggak, kerja kasar gak mau, jadi arus perlawanan akan keadaan. Kemana-mana bawa pisau.
Gak bisa eksis di kantor pake dasi, jadinya eksis nongkrong di ujung gang pake miras.
Masuk geng berandalan, berkarir dalam jenjang keanggotaan, lakukan kejahatan sebagai tangga naik karir. Kriminal total.
Semua ini ya akarnya itu : harapan yang gak ada. Marah sama keadaan. Dan kelompok generasi marginal ini makin mengkristal komunitasnya, betul-betul jerami kering yang siap dipantik kapan saja.
Membaca keadaan ini, disinilah rekayasa sosial harus dilakukan. Kiyai Luqmanulhakim menyebutnya sebagai “Save The Generation”.
Beliau bangun gerakan infaq beras supaya pondok-pondok santri yatim penghafal Quran yang gratis-gratis itu bisa bertahan. Gak usah mikirin beras lagi. di supply gratis.
