Opini

Ateng Tanjaya Sang Komandan Penjinak Si Jago Merah

Ateng Tanjaya Sang Komandan Penjinak Si Jago Merah

* Catatan Ringan Syafaruddin Usman

Jelang dinihari. Saat insan manusia terlelap pulas dalam tidurnya. Dari kejauhan, semakin dekat, kian jelas, lalu sayup menjauh. Begitu juga berikutnya. Dan bersambungan. Raung sirine kendaraan pemadam kebakaran menderu. Seisi kota di ruas jalan yang dilintasi terbangun. Para petugas, jika boleh disebut begitu, mereka yang punya semangat lebih dahsyat nyalanya dari kobaran api yang dihadapi, sigap dan bergegas. Mereka terbangun, tinggalkan mimpi dalam tidurnya, berhamburan dengan sepeda motor, menuju posko. Dan dibalut baju rompi khasnya, sembari menyertai teriakan nyaring sirine yang membahana, menuju TKP.

Dalam hening sepenjuru kota, dari TKP yang sangat jauh, tak terlampau lama, info pun sudah diketahui.
Namun, dari kotak hitam HT yang seakan salah satu alat wajib para pemadam, terdengar suara khas. Komando dan arahan untuk meredam kobaran api yang menghanguskan.

Alfa Tenggo. Begitulah suara dari pesawat komunikasi ini. Tak kenal waktu, suara berat penuh wibawa Alfa Tenggo mengarahkan para pemadam. Dan suara itu perlahan berhenti setelah bara api benar-benar teratasi.

Pantang pulang sebelum padam. Inilah doktrin yang diberondongkan Alfa Tenggo dengan suaranya mengusara lewat frekwensi para insan pemadam yang tak kenal balas jasa.