Dari pelurusan sejarah itu pun kita sadar, bahwa sejarah kita di Nusantara ini didominasi cara pandang Jawa, atau Jawa sentris. Dari sudut pandang luar Jawa, sebutlah Kesultanan Qadriyah misalnya, sejak 1771 tak ada pertempuran dengan Belanda. Sejak Kesultanan Qadriyah berdiri sudah disepakati kerjasama bilateral antara kedua negara. Kenapa bisa demikian? Karena kecerdasan Sultan Syarif Abdurahman Alkadrie yang juga penjelajah samudera. Dia secara genetis menuruni ayahnya Alhabib Husein dari Hadralmaut-Yaman dengan menikahi Nyai Tua dari Ketapang (Hibrid Arab + Dayak). Lalu Syarif Abdurrahman Alkadrie juga menikah sama Putri Chandramidi (hibrid antara Opu Daeng Manambon-Sulsel-dengan Putri Kusumba–keturunan Dayak). Keturunannya hebat-hebat. Jago diplomasi. Negarawan diplomat. Sampailah kepada Sultan Syarif Hamid II Alkadrie (1913-1978) negarawan diplomat dari Kalimantan yang menyumbang kedaulatan Indonesia Merdeka dari Belanda, serta pengakuan kedaulatan dari negara-negara asing, sekaligus menyumbangkan Lambang Negara Elang Rajawali Garuda Pancasila. Dari cara pandang Jawa Sentris dalam hal sejarah Indonesia mesti disempurnakan dengan lokal-sentris untuk kesempurnaan kita mempelajari sejarah. Sebab sejarah adalah unsur yang bisa efektif menyatukan kekuatan Nusantara mengisi Indonesia Merdeka menjadi Indonesia Raya. * (Foto: Masa studi di Hartford Courant–USA–2002–Indo Journalist Programme dengan tema Journalism in Ethics and Investigative Reporting. Hartford Courant adalah surat kabar tertua di Connecticut-AS-berdiri sejak 1764).
Benarkah Indonesia Dijajah Belanda 350 Tahun?
