Cepat atau lambat, kita harus hidup berdampingan dengan corona, seperti berdamainya kita dengan influenza.
Ketimbang mengutuk kegelapan, mari nyalakan lilin, demikian pepatah China yang tenar digaungkan staf khusus milenial. Sungguh sangat kecil ruang untuk mengutuk. Selain mengecilnya suara oposisi, juga pandemi ini membuat kita harus bergandeng tangan sebagai bangsa. Menyalakan lilin bersama-sama. Memupuk solusi.
Namun meski kecil, ruang mengkritisi haruslah diisi. Tak ada yang ingin bangsa besar ini masuk ke jurang krisis.
Kartu prakerja, Perpu Corona dan melandainya pertumbuhan ekonomi menjadi perhatian bersama. Refocusing anggaran harusnya diniatkan untuk mencegah meluasnya corona dan sebagai stimulus ekonomi. Tak ada kepentingan yang lebih mendesak dan penting selain dua hal tersebut.
Kita juga harus ingat, di balik krisis besar seringkali hadir penyimpangan besar. Sebagai bangsa, berkali-kali kita diingatkan bahwa ada segelintir anak bangsa yang doyan menari di atas tangisan saudara sebangsa.
Cukuplah tsunami Aceh, BLBI, bank Century menjadi saksi.
Berdamai dengan corona adalah keniscayaan, dan berdamai dengan penyimpangan bukanlah pilihan.
Setidaknya saya pernah mengingatkan.
