Hampir 2 bulan hidup kita dihantui makhluk bernama corona. Perlahan kita mulai akrab dan terbiasa dengan istilah rapid test, herd immunity, PSBB, lockdown, hingga beda mudik dan pulang kampung.
Bingung dan Melelahkan.
Ya, tak ada yang pernah membayangkan bahwa virus corona ini bisa menimbulkan dampak seluas dan sebrutal ini. Seluruh dunia terkapar. Menggelepar.
Tak ada negara adidaya. Tak ada negara tunadaya. Semuanya tak berdaya di telapak kaki corona.
Kini, hampir 2 bulan kita dicekoki dengan PSBB. Pergerakan horizontal dibatasi. Beberapa moda transportasi diputus. Denyut pergerakan ekonomi nyaris mati suri.
Tak ada yang tahu kapan ini akan berakhir.
2 bulan di rumah. Semua sektor megap-megap. Terutama yang menggantungkan dirinya di sektor informal. Tabungan terkikis menipis. Nol pemasukan. Keluar rumah dihantui corona, di dalam rumah periuk tak berasap. Simalakama.
Pemerintah tergagap. Keliatan kurang tanggap. Corona yang awalnya diabaikan—untuk memberi sinyal ketenangan katanya, bertumbuh eksponensial. Bak Midas, siapapun yang mendekat dan bersentuhan dengan pengidap corona akan tertular. Tak pandang bulu.
Akhirnya, pemerintah memberi sinyal kepasrahan. Di tengah ketidakpastian kapan berakhirnya pandemi ini. Di tengah ketidakpastian ditemukannya antivirus corona. Di tengah kepastian menipisnya kocek negara. Pemerintah membuka opsi untuk melonggarkan PSBB. Berdamai dengan corona. Relaksasi, istilah yang muncul kemudian.
