Dalam ajaran agama Islam pun informasi dan berita menjadi hal teramat sangat penting. Saking pentingnya, ayat pertama dalam Alquran yang turun di Gua Hira, pada malam mulia Ramadhan, dibawa dari Allah kepada Jibril untuk Nabiullah Muhammad SAW mengajar kaum “Jahiliyah” adalah tentang baca-tulis. Baca tulis–jurnalisme–pers adalah sesuatu yang penting, bahkan maha penting. Dalam kacamata Firman atau Wahyu sekalipun. Iqra’. Baca.
Seorang kawan pegiat pers, Asriyadi Alexander Mering dalam banyak diskusi mengatakan, “Kalau ayat-ayat Tuhan tidak dicatat, pun akan menguap.” Persis filsafat Yunani menerakan, “Scripta Manen, Verba Volent.” Script atau tulisan dia abadi, sedangkan ucapan, menguap. Di sini kita maknai bahwa pers membagi berita, berdedikasi cerita, berseloroh dengan gaya bahasa, tetapi membawa kisah syarat pembelajaran dan ilmu pengetahuan. Dari sana dia menjadi penting sebagai alat perjuangan dan pembawa perubahan. Dengan catatan tidak kebablasan.
Sejak Indonesia merdeka, 17 Agustus 1945 saya merasa bahagia dengan kebebasan pers, namun tidak suka dengan kebablasan yang teramat sangat.
Saya suka pers yang verifikatif dan kaya data dan fakta serta analisa seberat apapun, namun tidak suka dengan agitasi dan provokasi kosong melompong, seperti akhir-akhir ini kita hadapi.
Dengan ilmu jurnalistik yang dipelajari di kursus-kursus, pelatihan-pelatihan, bahkan bangku kuliah komunikasi, banyak news saat ini kejar tayang tanpa verifikasi.
