Oleh: Nur Iskandar
Tema sentral Hari Pers Nasional tahun ini adalah Bangkit dari Pandemi – Jakarta Gerbang Ekonomi – Pers Sebagai Akselerator Perubahan. Peringatan HPN menggema setiap Februari, wabil khusus tanggal 9, sejak 1946 silam.
Pers sudah bukan rahasia umum lagi adalah tulang punggung perjuangan nasional Indonesia. Bahkan budayawan bergelar si Burung Merak, Willy Brodus Si Rendra-Rendra secara sastrawi berkata, “Pedjoeangan adalah Pelaksanaan Kata-Kata.” Cek syair Kantata Takwa.
Dalam sejarah pers kita Bung Karno adalah penulis cum jurnalis. Nama samarannya Bima–salah satu tokoh pewayangan yang terkenal kuat, sakti, mandraguna. Artikel-artikelnya diekspose media massa. Membakar. Membangkitkan semangat perjuangan nasional melawan penjajahan.
Dalam sejarah perjuangan nasional kita Bung Hatta sang proklamator pendamping Soekarno adalah pegiat media massa pula. Dia adalah pemimpin redaksi Daulat Rakjat.
Ide dan isu sentral idiologi, politik, ekonomi, hingga sosial budaya memang berpusat dan berputar erat di media massa. Setiap hari, setiap jam, setiap detik. Tak pelak Jhon Naisbit–futurolog dunia mengatakan tagline, adagium sempurna, “Siapa menguasai informasi, maka dia menguasai dunia.”
