in

Catatan Kritis Hari Pers: Bedakan Mana yang Profesional dan Abal-abal

hpn 2021


Oleh: Nur Iskandar

Tema sentral Hari Pers Nasional tahun ini adalah Bangkit dari Pandemi – Jakarta Gerbang Ekonomi – Pers Sebagai Akselerator Perubahan. Peringatan HPN menggema setiap Februari, wabil khusus tanggal 9, sejak 1946 silam.

Pers sudah bukan rahasia umum lagi adalah tulang punggung perjuangan nasional Indonesia. Bahkan budayawan bergelar si Burung Merak, Willy Brodus Si Rendra-Rendra secara sastrawi berkata, “Pedjoeangan adalah Pelaksanaan Kata-Kata.” Cek syair Kantata Takwa.

Dalam sejarah pers kita Bung Karno adalah penulis cum jurnalis. Nama samarannya Bima–salah satu tokoh pewayangan yang terkenal kuat, sakti, mandraguna. Artikel-artikelnya diekspose media massa. Membakar. Membangkitkan semangat perjuangan nasional melawan penjajahan.

Dalam sejarah perjuangan nasional kita Bung Hatta sang proklamator pendamping Soekarno adalah pegiat media massa pula. Dia adalah pemimpin redaksi Daulat Rakjat.

Ide dan isu sentral idiologi, politik, ekonomi, hingga sosial budaya memang berpusat dan berputar erat di media massa. Setiap hari, setiap jam, setiap detik. Tak pelak Jhon Naisbit–futurolog dunia mengatakan tagline, adagium sempurna, “Siapa menguasai informasi, maka dia menguasai dunia.”

Baca Juga:  Paling Tidak, Jangan Jadi 'Peng-endorse Kematian'

Dalam ajaran agama Islam pun informasi dan berita menjadi hal teramat sangat penting. Saking pentingnya, ayat pertama dalam Alquran yang turun di Gua Hira, pada malam mulia Ramadhan, dibawa dari Allah kepada Jibril untuk Nabiullah Muhammad SAW mengajar kaum “Jahiliyah” adalah tentang baca-tulis. Baca tulis–jurnalisme–pers adalah sesuatu yang penting, bahkan maha penting. Dalam kacamata Firman atau Wahyu sekalipun. Iqra’. Baca.

Seorang kawan pegiat pers, Asriyadi Alexander Mering dalam banyak diskusi mengatakan, “Kalau ayat-ayat Tuhan tidak dicatat, pun akan menguap.” Persis filsafat Yunani menerakan, “Scripta Manen, Verba Volent.” Script atau tulisan dia abadi, sedangkan ucapan, menguap. Di sini kita maknai bahwa pers membagi berita, berdedikasi cerita, berseloroh dengan gaya bahasa, tetapi membawa kisah syarat pembelajaran dan ilmu pengetahuan. Dari sana dia menjadi penting sebagai alat perjuangan dan pembawa perubahan. Dengan catatan tidak kebablasan.

Sejak Indonesia merdeka, 17 Agustus 1945 saya merasa bahagia dengan kebebasan pers, namun tidak suka dengan kebablasan yang teramat sangat.

Baca Juga:  Belajar Bahasa

Saya suka pers yang verifikatif dan kaya data dan fakta serta analisa seberat apapun, namun tidak suka dengan agitasi dan provokasi kosong melompong, seperti akhir-akhir ini kita hadapi.

Dengan ilmu jurnalistik yang dipelajari di kursus-kursus, pelatihan-pelatihan, bahkan bangku kuliah komunikasi, banyak news saat ini kejar tayang tanpa verifikasi.

Penjudulannya syarat dengan opini. Saya terkadang geleng-geleng kepala sendiri. Sudah sejauh itukah kebobrokan media massa kita? Terutama media massa yang tidak jelas siapa pengelolanya. Dan pembaca perlu tahu mana media massa yang dapat dipercaya dan tidak. Perlu tahu UU Pers sehingga bisa menilai mana berita dan opini. Mana juga yang ditayangkan di kanal YouTube yang berplatform media massa sosial.

Kenapa perlu tahu alurnya? Agar tidak salah kaprah antara cuitan di FaceBook, IG, Tiktok dan YouTube serta platform medsos sejenisnya. Juga dibedakan mana TV, radio, koran dan media online. Alhasil lihat adakah struktur redaksinya sehingga kita bisa melihat sebuah tayangan berita ada proses penggarapan yang benar. Sehingga kita bisa tahu ini praktik news yang benar atau malapraktek. Ibarat dokter juga, ada praktik dokter benar-benaran dan ada yang ugal-ugalan alias mal-praktik.

Baca Juga:  Tidak Ada Masalah Gus Dur dengan Amien Rais

Rekomendasi obatnya keliru. Begitupula berita, tayangannya rancu bahkan menyesatkan. Di sini kita bukannya mendapatkan asupan informasi yang begizi, tapi meracuni dan membodohi. Pers yang sesungguhnya mencerdaskan malah membodohkan. Pers yang membawa perubahan pada pembangunan malah menghancurkan.

Lalu bagaimana? Kondisi sekarang kebablasan….Sampai Kwik Kian Gie mantan Menkokesra era Megawati pun menyatakan, susah berpendapat yang objektif, karena diserang buzzer. Ini mesti dibedakan situasi persilangan informasi di hari Pers Nasional dengan tema Bangkit dari Pandemi – Jakarta Gerbang Ekonomi – Pers Sebagai Akselerator Perubahan.

Teraju mengucapkan HPN tahun 2021. Berharap Teraju menjadi garda terdepan mengawal kebebasan pers, namun tetap pers perjuangan yang mencerdaskan dan memintarkan. Pembaca cerdas, dapat mengambil keputusan-keputusan cerdas sehingga bangsa dan negara pun tercerdaskan akibat membaca berita dan artikel yang berbibit-bebet-bobot. *

Written by Nur Iskandar

Hobi menulis tumbuh amat subur ketika masuk Universitas Tanjungpura. Sejak 1992-1999 terlibat aktif di pers kampus. Di masa ini pula sempat mengenyam amanah sebagai Ketua Lembaga Pers Mahasiswa Islam (Lapmi) HMI Cabang Pontianak, Wapimred Tabloid Mahasiswa Mimbar Untan dan Presidium Wilayah Kalimantan PPMI (Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia). Karir di bidang jurnalistik dimulai di Radio Volare (1997-2001), Harian Equator (1999-2006), Harian Borneo Tribune dan hingga sekarang di teraju.id.

Prof Yetrie Ludang

Prof Yetrie Ludang–Wanita Dayak, Guru Besar Teknologi Hasil Hutan–Khusus Pinang Merah

IMG 20210209 WA0107

Persiapan Kegiatan Pengabdian Pada Masyarakat Kelompok 1