Opini

Catatan Ringan dalam Kegamangan

Catatan Ringan dalam Kegamangan

Terjawab oleh saya seketika saya merenung sendiri, saya bayangkan saya tengah berada di luar sana, jauh dari kebisingan. Rasanya saya sangat damai, tenteram dan begitu bersemangat hidup.
Namun saya renungi, kalau saya terus masuk atau berselancar di arus media sosial seperti saat ini, saya pastikan saya tenggelam dan akhirnya kandas terbawa arus.
Sebab itu saya diam.
Namun saya mencatat apa yang sedang terjadi.
Saya pikir, suatu masa kelak catatan ini akan jadi referensi serupa juga orang merujuk krisis moneter di tahun 1996 lampau.
Lepas dari semua itu, saya dan tak sedikit orang, sedang “demam suasana”, bukan demam sebagaimana orang sakit.
Betapa banyak tulisan, bahkan share bahkan hasil copas yang bertaburan. Saya mulai lega, adik-adik kami generasi insan jurnalis cetak dan elektro menghimpun diri, untuk menengahi publikasi medsos yang menambah resah masyarakat.

Saya merasa bersemangat, bagaimana menemukan informasi yang akurat dari tak berhingga ekspos yang berkeliaran.
Sungguh bukan hanya saya pastinya, banyak insan di luar saya di sana, yang merasakan hal sama: apakah saya, kami, kita sedang dituju bencana ini.

Baca Juga:Slomang-ology

Dan akhirnya saya pun berkata pada diri sendiri, Ya Allah Ya Tuhan kami, Maharahman Maharahim Mu tak tertandingi oleh apa yang berhamburan di alam dunia milik Mu ini.