Sebaliknya, pendapat kedua, bahwa corona itu ujian dari Allah, menunjukkan bahwa dia sedang berprasangka baik. Dia berpendapat bahwa Allah sedang memberikan kesempatan kepadanya untuk naik tingkat atau derajat. Jika manusia lulus menghadapi ujian itu maka kenaikan tingkat akan diperoleh. Sebaliknya, jika gagal, maka kesempatan naik derajat itu akan hilang.
Memang kita tidak tahu mana satu yang benar. Kita juga tidak tahu apakah keduanya benar atau keduanya salah.
Pengetahuan kita mengenai hal yang ghaib itu terbatas. Kita tidak diberi ilmu melainkan hanya sedikit saja.
Oleh karena itu, jangan pernah merasa banyak tahu, dan jangan merasa paling tahu. Merasa begitu bisa membuat kita sombong dan lupa diri.
Lebih baik berprasangka baik daripada berprasangka buruk. Allah mengatakan, “Ana ‘inda zhonni ‘abdiy biy: ‘Aku sesuai prasangka hamba-Ku kepada-Ku. (HR. Bukhari, Muslim).
Lebih baik berprasangka Allah sedang sayang pada kita. Lebih baik mengira Allah sedang ingin kita naik derajat, dan karena itu marilah kita mengejar derajat itu.
Di tengah ujian ini, kita berkesempatan untuk merenung kembali perjalanan hidup. Perenungan bisa dilakukan dengan menyendiri. Menjauhi keramaian, menghindari hiruk pikuk. Menjauhi manusia lain dan mendekatkan diri pada diri dan Allah. (*)
