Home > Opini > Corona: Takut, Panik, Santai, Cuek….Atau?

Corona: Takut, Panik, Santai, Cuek….Atau?

Oleh: Yusriadi

Tulisan ini dibuat hari Selasa (24/03/2020), sesaat setelah saya membaca laporan terkini covid-19 di media. Laporan terakhir menyebutkan sudah ada 686 kasus positif di Indonesia, 55 meninggal, 30 sembuh. Angka ini menempatkan Indonesia ada di posisi tertinggi persentasinya kematiannya, 8,1 %.

Angka itu memang masih kecil dibandingkan dunia, khususnya Italia. Sudah ada 382,644 orang di dunia ini saat ini yang positif corona, 16,587 orang meninggal, dan 101,898 sembuh. Di Italia dilaporkan ada 6.077 kematian karena corona.

Di tengah angka-angka ini, dan berbagai dinamika ekonomi dan sosial, terasa agak aneh ketika masih banyak yang menganggap covid-19 sebagai sesuatu yang remeh. Terasa aneh ketika menganggap bahwa peristiwa ini dan tindakan yang diambil pemerintah hanya upaya menakuti dan konspirasi.

Beberapa orang di group membagikan tulisan, gambar meme dan video yang berisi pernyataan-pernyataan yang menganggap enteng virus tersebut. Kesannya, mereka justru menyindir orang-orang yang takut kepada virus.

Sama anehnya ketika misalnya mendengar dan melihat masih ada orang yang menggelar pertemuan umum, hajatan, ngopi bareng, kerja ke kantor seperti biasa, ke pasar tanpa rasa “takut” tertular virus. Mereka berani dan orang lain penakut.

Baca Juga:  Dr Ferry Hadari dan Tim FT Untan Berbagi APD Tim Medis Cofid19 ke RS Untan

Mungkin saya termasuk orang yang takut. Setidaknya, hari ini saya melihat melihat jumlah angka kematian lebih tinggi dari angka kesembuhan. Memang untuk ukuran penduduk Indonesia yang ratusan juta jiwa, angka kematian 55 orang itu kecil. Tetapi dari sisi persentasi, 8,1 % itu jumlah yang besar.

Saya juga membaca bahwa jumlah kematian dunia akibat virus ini mencapai 16,587 orang. Jumlah ini jelas secara akumulatif sangat besar. Belum lagi bicara tentang orang yang memerlukan perawatan, jumlah pasti lebih banyak. Hitungan sederhananya, satu orang sakit memerlukan bantuan tenaga kesehatan dan keluarga yang merawatnya. Jadi berapa orang yang terlibat? Belum lagi biaya yang dikeluarkan dan nilai non-materialnya.

Karena itu dalam beberapa kesempatan ketika ada postingan di group soal “jangan panik”, “jangan takut virus”, “virus ini tidak bahaya”, dan “orang yang terkena bisa sembuh sendiri”, jika maksudnya agar orang berani dan lalu abai terhadap bahaya virus, saya merasa sangat prihatin. Rasanya, “niat begitu”—semoga saya salah, menjadi kontraproduktif dengan tindakan-tindakan yang diambil pemerintah sekarang ini.

Baca Juga:  Erlina Burhan: the Use of Masks must also be Accompanied by Hand Hygiene

Sekurangnya, jika memang tidak percaya bahwa covid-19 itu bahaya dan bisa merenggut jiwa, percayalah bahwa data yang ada menunjukkan banyak orang yang tertular dan meninggal baik langsung maupun tidak langsung. Banyak orang yang berjuang untuk mengatasi penyakit dan mengobati orang yang sudah tertular. Banyak biaya yang dikeluarkan untuk mengatasi pandemi ini. Luar biasa kerugian yang ditimbulkan.

Sekurangnya, hormatilah kebijakan pemerintah yang sedang berusaha mengatasi pandemi. Dengarkan dan ikutilah demi kemaslahatan bersama. (*)
Dalam situasi sekarang, apapun perasaan yang

Berbagi itu indah:

Tulis Komentar

comments

About Yusriadi

Redaktur pada media online teraju.id dan dosen IAIN Pontianak. Direktur Rumah Literasi FUAD IAIN Pontianak. Lulusan Program Doktoral ATMA Universiti Kebangsaan Malaysia, pada bidang etnolinguistik.

Check Also

Catatan Hukum Tentang Lock Down

Oleh: Bivitri Susanti* Sejak kemarin, media memberitakan, pemerintah akan segera membuat Peraturan Pemerintah untuk melaksanakan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

teraju.id