Enam belas hari terakhir ini layar plasma langit tidak terbuka. Belalai tangga langit tidak juga menjulur turun. Saya habiskan waktunya di lereng seberang dari bukit belakang Puskesmas menikmati laut lepas, Laut Cina Selatan. Kabarnya beberapa kapal perang AS sedang menjelajahi laut ini.
‘Markas’ saya berada di bawah pohon Ketapang (Terminalia catappa). Dalam dunia mistis, banyak kisah di sekitar pohon Ketapang. Namun, bagi saya, itu biasa. Dari kecil saya sudah bermain di bawah pohon ketapang yang tumbuh subur di pekarangan kami.
-000-
Ohh, Maaf, layar plasma langit sudah terbentang. Tergambar di sana saya dan beberapa calon penumpang lain berada di atas motor air menuju ke kapal Bukit Raya. Di kepulauan, kapal penumpang sebesar Bukit Raya tidak dapat bersandar di dermaga. Kapal membuang sauh di tengah laut.
Atas izin Dinkes saya akan mengikuti simposium penanganan MERS (Sindroma Pernapasan Timur Tengah) bagi para dokter Puskesmas. Kebetulan, salah seorang nara sumbernya adalah dokter Frans Tjuka, pembimbing CO-Ass dulu.
Jam telah menunjukkan pukul 22:00. Penungpang di sekitar saya telah tertidur lelap. Maklum, mereka para pekerja kebun cengkeh yang menghabiskan waktunya sepanjang hari di kebun. Bagi mereka malam digunakan untuk mengembalikan tenaganya.
