Dampak dari kerusakan lingkungan dan kemerosotan sosial ini adalah ketimpangan global. Jurang antara yang kuat/kaya dan yang lemah/miskin dalam bidang apa pun semakin lebar.
Namun demikian, tanggapan kita pada jeritan Bumi ini hanya suam-suam kuku, seporadis, serta beragam. Paus Fransiskus menyatakan bahwa Gereja berusaha mendengarkan semua pihak dan mendorong debat tulus di antara para ilmuwan sambil menghargai keragaman pendapat.
Diharapkan, terjadi dialog yang intens antara ilmu pengetahuan dan agama, walupun dengan pendekatan yang berbeda. Bandingkan dengan debat akademis yang sangat berbobot di awal abad ini antara sesama orang berdarah Jerman, yaitu antara Joseph Ratzinger (Paus Benediktus XVI) dan Juergen Habermas (yang agnostik) dengan tema “Iman melawan nalar”. Agama mesti membiarkan diri diterangi oleh nalar. Sebaliknya, nalar mesti mengakui batas-batasnya dan perlu mempelajari kemampuan untuk mendengarkan di hadapan tradisi-tradisi religius umat manusia yang agung.
Keyakinkan iman yang mengatakan bahwa manusia itu diciptakan menurut citra-Nya tidak boleh ditafsirkan seoleh-olah menusia boleh memperlakukan ciptaan-ciptaan lain semaunya sendiri. Allah telah memberi manusia berbagai norma yang mengatur hubungan antara sesama manusia, serta antara manusia dan ciptaan-ciptaan yang lain.
