Opini

Guru sebagai aktivator: “mastery learning”

Guru sebagai aktivator: “mastery learning”
Dr Leo Sutrisno

Ada dua hal yang khas dari strategi bejaran tuntas. Pertama, siswa mengikuti proses pembelajaran seperti yang biasa dilakukan di kelasnya dengan strategi apa pun, Kedua, setelah satu atau beberapa pokok materi ajar diselesaikan, siswa mengikuti tes hasil belajar untuk menentukan apakah siswa yang bersangkutan sudah tuntas atau belum. Mereka yang belum tuntas diwajibkan mengikuti kegiatan diagnose-remediasi. Kegiatan ini yang banyak dipraktekkan keliru.

Sayang, di banyak sekolah, pelaksanaan kegiatan diagnose-remediasi itu bukan untuk membuat siswa tuntas dalam menguasai poko bahan yang diterimanya. Tetapi, kegiatan itu digunakan untuk mengangkat nilai siswa agar mencapai nilai kompetensi minimum. Mereka yang telah mencapai nilai kompetensi minimum dinyatakan sudah tuntas. Karena itu, mungkin menjelaskan kegiatan diagnose dan remediasi selalu dijadwalkan di akhir semester. Praktek ini jauh dari yang disebut menggunakan strategi belajar tuntas.

Strategi belajar tuntas menuntut seluruh pokok materi ajar disusun secara hirarkis. Sehingga, penguasaan suatu pokok materi tertentu menjadi prasyarat agar dapat mempelajari pokok metari berikutnya. Di sini terkandung syarat ‘TUNTAS’ pada setiap materi ajar bagi setiap siswa. Mereka yang ‘tuntas’ pada pokok materi tertentu diijinkan mempelajari poko materi di ‘atas’ berikutnya.