Opini

Guru sebagai aktivator: “mastery learning”

Guru sebagai aktivator: “mastery learning”
Dr Leo Sutrisno

Praktek kedua yang sering keliru adalah kegiatan diagnose. Kegiatan diagnose belajar yang sesungguhnya dapat dipadankan dengan kegiatan diagnose di bidang kesehatan. Guru sebagai ‘dokter belajar’ mencari ‘penyakit’ yang membuat ‘pasien – (siswa)’ tidak memahami pokok materi yang baru saja di pelajari. Karena itu, guru mesti menggunakan tes diagnotik bukan tes hasil belajar.

Tes diagnostik berbeda dari tes hasil belajar. Tes hasil belajar digunakan untuk menentukan apa yang telah dikuasai siswa. Tes diagnostik digunakan untuk menentukan apa yang belum dikuasai siswa dan sekaligus menentukan penyebab ‘sakit’-nya. Sayang, dalam praktek di banyak sekolah, tes hasil belajar diperlakukan sebagai tes diagnostik.

Baca Juga:Anak Pintar

Praktek ketiga yang sering keliru dilakukan adalah kegiatan remediasi yang ‘diartikan’ sebagai tes ulang. Sehingga, untuk ‘membuat’ siswa mencapai nilai kompetensi minimum, tingkat kemudahan tes ulang dinaikkan. Akibatnya, nilai siswa yang bersangkutan dapat masuk pada kriteria tuntas. Tes ulang bukan remediasi!!!.

Kegiatan remediasi belajar mirip dengan apa yang dilakukan dokter dalam menyembuhkan penyakit pasien. Dokter membuat resep obat yang harus diminum pasien. Tentu jenis obat dan takarannya disesuaikan dengan hasil diagnose/penyakit yang diderita.