Dia berkoalisi dengan Zumri Bestado Sjamsyuar dalam “mengapi-api” semangat dan idealisme aktivis kampus. Termasuk saya. Tapi saya tidak lebur dengan politik kampus dan negara. Saya berkhidmat di lembaga pers mahasiswa Islam, pers kampus Mimbar Untan dan liniear ke Volare 103 FM serta kemudian ke Jawa Pos News Network.
Kami tetap jumpa. Intens. Dalam konteks liputan dan wawancara.
Hamka selesai S2 diterima sebagai dosen di IAIN Pontianak. Politik kampus mengantarkannya jadi Rekto. Gerbong HMI diboyong serta. Ada friksi tentu saja.
Hamka dan saya tetap berkomunikasi. Dalam konteks media massa. Banyak warna baru akademis dia bawa ke IAIN. Termasuk pembangunan fisik. Ia meneruskan Prof Dr Haitami Salim yang juga figur akademik hebat di IAIN. Sosok yang lebih dahulu kembali ke haribaan-Nya.
Hamka dulu bersepeda dari Jl Paris 1 tempatnya kontrak rumah. Karir yang moncer mengubah semuanya. Ia terjerat kasus meubeleir. Sepanjang beberapa tahun terkatung katung antara benar dan salah. Beberapa kawannya lebih dahulu masuk bui. Salah satunya, gerbong HMI, Abah: Abdul Hadi.
Tak jelas salah dan benar. Mereka para ustadz. Para kyai. Setahu saya ini resiko jadi pejabat. Saking baiknya, bisa jatuh ke bui, seperti halnya Walikota Dr H Buchary A Rachman.
