“Yang ini” Ucap nenek sambil menunjukkan tato di betis, “Disebut Kelingai. Ini kalajengking. Sama, gambar di betis kanan dan betis kiri’
Gambar Kalajengking menghadap ke ke bawah. Dalam sikap sedang siap menghadang lawan. Sebuah isyarat kewaspadaan.
Kedatangan kami kali ini, merupakan kunjungan rutin yang menjadi salah satu program dari Bina Lansia. Karena keterbatasan alat maka yang kami periksa hanyalah suhu tubuh, kadar gula dan tekanan darah. Kondisi kesehatan inik Merry masih prima. Semua normal. Pendengaran dan penglihatan, masih berfungsi dengan baik. Giginya juga baik masih utuh. Putih bersih seperti yang ada dalam iklan-iklan pasta gigi.
Kelak, ketika saya kembali ke kampus, mendekati ujian spesialisasi, saya menerima surat pemberitahuan dari dekan bahwa salah satu penyandang dana bea siswa di banyak Fakultas Kedokteran meninggal dunia. Saya baca namannya Ny. Merry Mayang O’Dowd. Dari deretan nama-nama mahasiswa yang yang dibiayai adalah nama saya. O’Dowd adalah almarhum suami ini Merry, seorang Irlandia.
Ya Tuhan!!!. Saya baru sadar. Setiap kali saya melakukan kunjungan rutin Bina Lansia, saya selalu diperlakukan sebagai cucu bukan sebagai dokter. Saat pulang pasti disiapkan oleh-oleh, seperti yang selalu dikerjakan Ibu, jika saya kembali ke kost.
