Betapa tidak! Satu-satunya dokter spesialis paru di suatu provinsi zona merah meninggal karena terjangkiti virus. Bukan karena sedang merawat pasien tetapi gara-gara pasien lain yang saya rawat tidak mengaku kalau baru pulang dari negara yang termasuk pandemi.
Memang, hidup ini adalah kesempatan kata Pendeta Wilhemus Latumahina dalam lagunya. Syairnya terinspirasi dari Gal 6:10. “Hidup ini adalah kesempatan berbuat baik kepada semua orang sebab ada waktunya kita tak dapat berbuat apa-apa”. Memang betul, “Tuhan (telah) mengetahui rancangan-rancangan manusia (yang) sesungguhnya sia-sia belaka (Maz 94:11). Mestinya, kita selalu berkata, “Jadilah kehendak-Mu, Ya Tuhan”
Maaf, layar Plasma Langit telah terkembang. Saat ini, saya berada di atas speed boat Puskesmas, bersama dengan dua orang perawat. Kami sedang menuju ke sebuah pulau kecil seberang Puskesmas. Kami mengunjungi seorang nenek sebatang kara untuk pemeriksaan rutin, Bina lansia. Kali ini kami mengunjungi inik (nenek) Merry Mayang.
Syukurlah langit cerah. Di kejahuan terlihat pokok-pokok nyiur bergoyang riang mengiringi perjalanan kami. Langit biru muda dengan di sana-sini melayang mega-mega putih yang menyatu dengan buih-buih ombak dalam kehjauan laut di batas cakrawala menguatkan kesan kegembiraan alam ciptaan-Nya.
