Opini

Inik Merry Mayang

Inik Merry Mayang

Kedua perawat yang mendapingi saya tidak tahu tentang siapa inik Merry Mayang ini. Di usia 87 tahun, bekas-bekas kecantikannya masih kuat tertinggal di tubuhnya. Warna kulitnya jangan dibayangkan hitam seperti sebagaian besar masyarakat pantai. Sama sekali tidak. Warnanya kuning langsat seperti warna kulit perempuan Mediteriania atau perempuan Libanon.

Warna ini menggaris-bawahi ukiran tato yang hampir di seluruh tubuhnya. Suatu waktu, ia mengundang kami khusus makan siang. Sambil mengupas kulit udang galah ia bertutur tentang sejumlah tato itu.

“Tato di leher ini, Bu Dokto’, adalah gambar seekor kupu-kupu yang sedang mengepakkan sayap”. Ucapnya sambil menyibak rambutnya yang tergerai lembut di leher. Ibarat kupu-kupu di lehernya itu, inik Merry, dulu, memang perantau. Kadang Singapura, kadang Kuala Lumpur. Kadang di Kuching. Akhirnya, terdampar di sini bersama suami.

“Nah, gambar yang di lengan ini”. Kata inik Mayang sambil menunjukkan kedua lengannya, “Disebut bunga Terong” Coba perhatikan kelopak bungan itu. Di lengan ini terdiri delapan kelopak. Ada dua gambar, bagian luar dan bagian dalam. Mereka bertemu. Lain dengan yang ada di punggung telapak tangan ini. Ini Cuma enam kelopak”

Dalam budaya Dayak Iban, tato Bunga Terong menandai pemiliknya golongan orang perantau yang dihorati. Itu berarti banyak pengetahuan yang sudah dipelajari.