Opini

FKPT, Terorisme dan Budaya Lokal

FKPT, Terorisme dan Budaya Lokal

Oleh: Yusriadi

Pembukaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) di Jakarta, Senin (17/2/20) terasa unik dan wah. Saya kira kesan itu adalah kesan pribadi saya. Tapi ternyata, hal sama dirasakan peserta lain. Peserta dari Sulawesi saat sesi tanya jawab materi hari ke-2, memuji kepiawaian panitia dalam mendesain acara.

Ada dua hal yang membuat acara pembukaan itu menarik. Pertama, desain pentas dan pembawa acara. Badrop layar lebar berwarna merah, dengan tulisan Rakernas FKPT ke-VII Damai Bersatu, warna putih. Warnanya cerah dan terang, memberi kesan tersendiri.

Dua pembawa acara memandu dengan cukup baik. Kekurangan di sana sini tertutup oleh penguasaan panggung dan kekompakan mereka.

Kedua, kehadiran sanggar budaya Betawi yang mengiringi kedatangan Kepala BNPT Suhardi Alius dan Sekjen Kemdagri Hadi Prabowo. Sekelompok orang mewakili tamu dan tuan rumah menampilkan adat istiadat menyambut tetamu. Ada atraksi palang pintu serta silat ala jawara Betawi. Para pemain mengenakan baju khas Betawi berwarna putih, merah dan kuning.

Ada lagu selawat badar dan kemudian berbalas pantun dua kerat ala Betawi, plus ada tabuhan gendang.