Ketiga bacaan ini, sekali lagi mengingatkan akan peran Allah dalam kehidupan manusia. Tak sedetik pun Allah meninggalkan manusia.
Sebaliknya, Bapa Suci Paus Fransikus (EG 93-97) menunjukkan di era global ini, berkembang spiritualitas keduniawian. Disebutkan spiritualitas keduniawian bersebunyi di belakang penampilan yang saleh dan bahkan kasih kepada Gereja, tetapi demi krmuliaan manusia dan kesejahteraan pribadi. Spiritualitas ini memiliki aneka wajah, tergantung dalam orang dan kelompok jenis apa spiritualitas itu merasuk (EG 93).
Sipiritualitas keduniawian ini dapat mengisi dirinya sendiri dengan dua cara. Pertama, keterikatan kepada gnostisisme yaitu aliran yang mencari pengetahuan dari ‘wangsit’. Suatu kepercayaan yang murni subjektif karena hanya berminat pada pengalaman tertentu yang terbatas. Dimaksudkan untuk menerangkan dan menghibur, tetapi akhirnya justru terperangkap dalam pikiran dan perasaan sendiri.
Kedua, keterikatan dengan neopelagianisme promothean. Karena mereka mentaati peraturan-peraturan tertentu atau tetap setia kepada gaya Katolik dari zaman kuno, mereka ini terserap pada kekuatannya sendiri sehingga merasa lebih tinggi daripada orang lain (EG 94).
