Opini

Katakan ‘Tidak’ Kepada Spiritualitas Keduniawian (Lingkungan F. Asisi)

Katakan ‘Tidak’ Kepada Spiritualitas Keduniawian  (Lingkungan F. Asisi)

Keduaniawian ini tampak pada dalam diri beberapa orang yang menemukan keasyikan terhadap liturgi, ajaran, dan wibawa Gereja. Tetapi, tanpa perhatian sedikit pun bahwa Injil memiliki pengaruh yang kuat terhadap umat Allah. Akibatnya, Gereja berubah menjadi bagian sebuah museum atau harta karun yang hanya memiliki sedikit orang terpilih (EG 95).

Cara berpikir semacam ini ikut memupuk kesombongan orang yang merasa puas jika memiliki sedikit kuasa. Mereka menuruti fantasi-fantasi yang tanpa batas sehingga kehilangan kontak dengan kehidupan nyata dan kesukaran umat beriman yang sesungguhnya (EG 96).

Mereka yang jatuh pada spiritualitas keduniawian ini hanya memandang dari atas dan dari kejauhan. Mereka menolak nubuat-nubuat dari saudara-saudaranya. Mereka mencela orang yang mengajukan pertanyaan. Mereka juga tiada henti menunjuk kesalahan orang lain. Hati mereka hanya terbuka kepada cakrawala yang terbatas, demi kepuasan batin serta kepentingan diri. Akibatnya, mereka tidak pernah belajar dari dosa-dosanya, tidak juga terbuka secara tulus terhadap pengampunan.

Bapa Paus Fransiskus meminta kita menghindari spiritualitas keduniawian ini dengan terus-menerus mendorong Gereja ke luar dari dirinya sendiri dengan cara menjaga misinya supaya tetap tertuju pada Yesus Kristus serta komitmennya pada orang miskin (EG 97).