Selama proses berkarya, semuanya fokus.Ruangan yang tadinya cukup ramai, menjadi hening. Senyap. Benar-benar kontras.
Ada yang berkutat dengan henpon karena mengetiknya dengan teknologi itu. Ada yang tekun dengan kertas dan pen.
Ada yang duduk tegak, ada yang miring-miring. Ada yang sesekali tercenung mencari cara mengembangkan karya. Ada yang tertunduk.
Sebuah suasana dan pemandangan yang indah dan mengesankan. Sebuah proses yang luar biasa.
Sesekali saya memecah suasana. Mengingatkan peserta agar jangan merisaukan huruf, tanda baca, kata dan kalimat. Biarkan apa yang ada dalam pikiran dicurahkan dahulu, tahap yang lain barulah editing dan finishing.
Saya juga mengingatkan soal mutu dan proses. Saat ini, saat baru memulai, mutunya bukan masalah. Mutu itu urusan belakangan, urusan 10 tahun yang akan datang. Saat ini yang penting berkarya dahulu. Mulai saja dahulu.
Ketika beberapa waktu kemudian, penulisan selesai. Karya dikumpulkan Bang Varly, dan dia mendapat amanat mengurus naskah yang masuk. Menerbitkannya melalui lembaga yang dia kelola.
Bang Varly menargetkan karya peserta bisa diterbit ujung bulan ini. Semoga.
Karya ini akan jadi buku bersama dan karya pertama bagi remaja-remaja itu. Karya yang menandai akhir keheningan dan kesenyapan bersama di Aula BBI Parit Mayor, Pontianak, siang itu. (*)
