Opini

Kekayaan Kalbar, Catatan untuk Gubernur Baru

Kekayaan Kalbar, Catatan untuk Gubernur Baru

Pemimpin mendatang moga-moga tertarik untuk memandang potensi budaya ini sebagai khazanah berharga: baik langsung maupun tidak langsung. Lalu muncul rencana pembangunan yang bertitik tolak dari khazanah lokal tersebut.

Pendekatan ini rasanya penting karena sering kali orang memandang keragaman daerah ini biang masalah dan menimbulkan perpecahan di tengah masyarakat. Sering seorang pemimpin terjebak ketika bersedia diajak untuk hanya memikirkan komunitasnya dan menjadikan sebagai instrumen politik, lantas menganggap komunitas dan budaya lain lain sebagai musuh. Energi positif pun jadi negatif. Kalbar tidak akan bisa maju hanya dengan memajukan satu kelompok, karena Kalbar milik bersama. Setiap kelompok di Kalbar hidup berkongsi ruang dengan yang lain.

Ketiga, pemerataan pembangunan. Pembangunan dalam berbagai bidang di daerah ini sudah dilakukan. Namun, faktanya pembangunan selama ini belum atau tidak merata. Sungguh pun gagasan pemerataan sudah muncul sejak lama tetapi pelaksanaannya, nampaknya tidak mudah. Masih banyak pemukiman penduduk yang tidak berlistrik dan bersinyal, tidak bersemen atau aspal, terbatas layanan pendidikan dan kesehatan.

Daerah yang terisolir masih cukup banyak. Tidak hanya di ujung Kapuas Hulu, Sambas atau Ketapang, tetapi juga daerah yang sejengkal dari Pontianak. Kita dapat menyebut beberapa kampung di pesisir yang mengalami situasi itu.