Pertama, potensi alam. Kalbar memiliki kekayaan potensi alam. Namun potensi alam Kalbar belum tergarap maksimal. Lahan kosong masih mudah dijumpai. Sepanjang perjalanan ke pantai selatan, utara dan arah timur, di belakang rumah-rumah penduduk lahan-lahan yang ditumbuhi semak belukar. Di beberapa tempat lagi ternampak kebun kelapa, hutan karet, dan penanaman sawit. Gagasan bernas yang pernah muncul semisal one village on product belum mendapat tempat.
Kegairahan warga bertanam-kebun, belum diiringi pengetahuan dan kearifan mereka membaca pasar dan masa depan. Belum dimanage untuk mendukung pertumbuhan ekonomi lingkungan. Belum juga didukung oleh kebijakan pemerintah semisal pendampingan, pemodalan, dan penyediaan prasarana.
Gubernur Kalbar mendatang dapat memanfaatkan kegairahan warga dalam bertanam-kebun dan berwirausaha, sehingga ekonomi lingkungan tumbuh. Lapangan kerja yang sering dikeluhkan dapat terbuka.
Kedua, potensi komunitas dan budaya. Kalbar dikenal sebagai masyarakat yang majemuk. Banyak suku dan komunitas. Masing-masing memiliki budaya dan kearifan. Tak terhitung jumlahnya.
Selalu ada orang-orang hebat dari komunitas itu, mereka yang menciptakan inovasi baik budaya material maupun non-material. Mereka menjadi panutan dalam bidangnya.
Semua ini akan menjadi modal yang sangat berharga untuk pembangunan daerah ini ke depan. Bahkan, modal budaya, terutama modal sosial, nilainya bisa tidak terkira besarnya, yang akan membuat gerak dan dinamika pembangunan menjadi lebih rancak dan dahsyat.
