Meja di ruang tengah pun dipilih untuk berbincang-bincang, ditemani Dewi Juliastuty dengan Sabhan Rasyid, maklum membawa serta anak dan istrinya. Sabhan Rasyid kesehariannya di bidang pendidikan, mengajar di sebuah sekolah negeri tingkat pertama di Kota Singkawang. Di samping mengajar Sabhan Rasyid juga peduli di dunia literasi dengan menelurkan beberapa karya dalam bentuk buku bersama sebuah komunitas menulis. Pengajar yang demikian mudah memberi dampak praktik baik bagi murid-muridnya sekaligus tumbuh geliat literasi.
Dengan demikian, pengajar seperti Sabhan Rasyid mudah menjadi role model bagi muridnya memantik mengembangkan keliterasian. Metode semacam ini yang diterapkannya untuk memicu muridnya melakukan tulis-menulis dengan role model Hanna Fransisca, penulis Singkawang yang sudah merambah ranah nasional. Beberapa karya-karyanya, Sabhan Rasyid menunjukkan karyanya berbentu pentigraf, cerpen tiga paragraf. Sebuah bentuk karya sastra yang belum akrab dalam wacana sastra.

Bentuk karya sastra tersebut berkisah tentang lingkungan hidup sekitar Singkawang sebagaimana ungkap Sabhan Rasyid dalam perbincangan. Ungkapnya bahwa pentigraf terbagi menjadi tiga komponen, yaitu orientasi, komplikasi, dan resoluisi dan terperinci dalam tiga paragraph untuk membangun cerita yang utuh. Ditambahnya lagi bahwa bentuk karya sastra itu merupakan jawaban dari keresahan seorang profesor yang mengajar di Korea atas tunaminat anak-murid terhadap karya sastra.
