Opini

Ketika Keluarga Jawa “Belajar” dari Orang Melayu

Ketika Keluarga Jawa “Belajar” dari Orang Melayu

Saya mendengar kue lapis sudah lumayan lama menjadi kue lebaran keluarga di sini. Mereka belajar membuatnya dari tetangga dan keluarga lain, dan tetangga atau keluarga itu sebelumnya belajar dari orang Melayu. Apakah rasanya sama dengan rasa original Melayu, entahlah. Yang penting namanya, komposisi bahan dan cara memasaknya, sama: kue lapis yang dimasak berlapis-lapis.

Selain kue itu, tadi, bapak mertua dan biras saya, menebang pohon sawit, mengambil bagian dalam yang muda. Umbut namanya. Lebaran ini keluarga menyediakan menu sayur umbut sawit sebagai menu tambahan. Maaf, ini usul saya yang didukung istri dan diiyakan mertua.

Bagi mereka, kehadiran sayur ini di hari besar, mungkin agak aneh. Belum pernah. Biasanya hanya ayam dan sayur kentang dan lainnya. Umbut sudah “pandai” mereka sayur kala hari-hari biasa, secara kebetulan menebang pohon sawit.

Tetapi bagi saya, menu ini sudah biasa dijumpai pada acara hari dan makan besar begini. Di kampung, di Kapuas Hulu, umbut selalu ada. Jenisnya, ransa, kadang… kelapa dan sawit. ketika makan bersama setelah salat Ied, menu sayur umbut pasti ada. Inilah menu utama, memanfaatkan tanaman lokal.

Soal bumbu, ada emak biras saya yang kebetulan orang Kapuas Hulu. sehingga cara memasak umbut benar-benar cara Ulu.