Pertanyaan lanjut, citra Allah yang mana? Jawaban pertanyaan ini ada pada Yesus. Arti Yesus pada orang Kristiani dapat digali pada seluruh kehidupan Yesus dari kelahiran-Nya sebagai anak keluarga tukang kayu di desa Nasaret 2000 tahun yang lalu hingga kematian-Nya di kayu salib dan kebangkitan-Nya tiga hari kemudian. Yesus meringkas dengan menyatakan, “Aku adalah jalan, kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melewati Aku” (Yoh 14:6).
Konsekuensinya, manusia yang dihadirkan Allah di Bumi ini mesti bertindak seperti apa yang dilakukan Yesus. Karena, Yesus adalah satu-satunya ‘jalan’ menuju Bapa. Karena, Yesus adalah (satu-satunya) kebenaran (bersama Yesus berarti bersama Bapa). Dan, karena Yesus yang adalah Hidup (kekal).
Apa yang dilakukan Yesus. Ia berinkarnasi menjadi manusia karena Ia mau menyelamatkan manusia dari dosa agar dapat hidup kekal. Karena itu, manusia kristiani mesti bertindak, di Bumi ini, sebagai makhluk yang sudah menjalani kehidupan Yesus yang kekal. Kehidupan yang damai. Kehidupan yang tenteram. Kehidupan yang penuh Kasih. Kita di dunia ini pun mesti menjadi saluran Kasih-Nya.
Detail dari kehidupan yang damai itu, oleh Paus Fransiskus diurakian dengan detail dalam Ensiklik Laudato Si. Perlu diingatkan bahwa mewujudkan kehidupan yang damai dengan segala ciptaan-Nya merupakan proses yang panjang (LS: 202).
