Faktor penting lainnya adalah bahasa. Para tetua Pontianak jago jago bahasa. Surat surat kerajaan masa lalu terbiasa trilingual: Arab Melayu, Inggris dan Belanda. Jika saja Jepang pada 1942-1944 tidak melakukan genosida di Bumi khaTULIStiwa…alamat maju pesatnya ibukota Kalimantan Barat ini.

Sebab perang dunia kedua di mana Jepang membantai 21.037 jiwa rakyat Kalbar, dominan ilmuan dan ulama di Pontianak, putus 1-2 generasi. Keunggulan kepemimpinan, kearifan, kekuatan diplomasi pun putus. Kekuatan bahasa hilang. Pontianak sebagai lokomotif Kalbar ibarat kapal induk yang karam. Keram. Tenggelam.
Sebagai jurnalis saya merasakan sekali sambungan sejarah kelam Pontianak. Kemampuan bahasa internasional yang rendah menyebabkan sangat sedikit jurnalis mengecap pendidikan negara maju berbasis Bahasa Inggris. Hal serupa dirasakan kampus negeri, apalagi swasta.
Saya bersyukur dua kali program pendidikan jurnalistik ke Paman Sam dan sekali di Australia. Oleh karena kesadaran itu pula saya dirikan Kampoeng English Poernama.
Di sini generasi muda ditempa belajar Bahasa Inggris secara gratis. Dimulai dari nol sampai bisa presentasi. Dari mulai percakapan sehari-hari sampai menulis dalam Bahasa Inggris. Bilingual di Teraju News Network.
