Opini

Menjaga Ritme Berkarya

Menjaga Ritme Berkarya

Luar biasa karena mereka sebelum ini tidak tumbuh di ladang literasi. Di kampung, di tempat mereka buku terbatas, orang yang bicara tentang tulis menulis juga terbatas. Di kampung Mbak Ambaryani, 20 tahun lalu, saat dia membesar, listrik hanya genset yang menyala sejam dua.. Buku bacaan, langka. Guru juga kurang. Latihan menulis? jangan ditanya. Orang tuanya, petani yang tidak terbiasa dan tidak terkait dengan buku. Kawan-kawannya, yang kemudian lanjut pendidikan, dapat dihitung dengan telunjuk.

Jadi di tengah situasi ini dia tumbuh. Hingga kemudian bersekolah di Pontianak, barulah sedikit mendalami bidang kepenulisan ini.

Di lingkungan kerja sekarang budaya ini sebenarnya juga terbatas. Kesibukan kerja, plus mengurus keluarga sesungguhnya hambatan lain yang banyak menggugurkan orang lain.

Khatijah, Mita, Novie dan Saripaini, sebenarnya sama. Mereka tumbuh berbeda dibandingkan teman yang lain. Tidak larut dalam dunia yang umum merupakan bentuk keluarbiasaan itu.

Kini semangat berkarya mereka terlihat. Saya menaruh harapan, semangat itu tidak pudar, agar karya mereka terus lahir. Kelak, tidak diragukan lagi karya besar, setidaknya dalam jumlah besar, bisa publik disaksikan publik Kalbar. (*)