Kemudian dari data di atas disebut jabatan mertua Hamid adalah Voorzitter (Ketua/Kepala) Kedirische (Kediri-Jatim) Landbouw (Perkebunan) Vereninging (Perserikatan). Maka persislah dari referensi yang saya baca, bahwa ayah Dina atau Didi Van Delden adalah Kapten yang dipercaya memimpin perserikatan perkebunan. Kebun kopi dikembangkannya dengan mendatangkan bibit ke Jatim. Salah satu peninggalannya adalah Lembaga Penelitian Kopi dan Kakao di Jatim (Jember/Jenggawah).
Nah, istri Nico Van Delden adalah dara keturunan Kerajaan Bugis (Sidenreng-Sulawesi Selatan) yang mana Sulsel itu juga penghasil kopi ternama. Sehingga Didi atau Dina Van Delden adalah “hibrid” antara Belanda + Bugis.
Sultan Hamid juga ada darah Bugisnya, yakni dari uyutnya Sultan Syarif Abdurahman Alkadrie yang menikahi putri Opu Daeng Manambon dari Mempawah, yakni Putri Chandramidi. Kesimpulan saya, sejarahwan yang menuding Kebelanda-Belandaan adalah keliru!
Justru Didi Van Delden teramat sangat Indonesianis. Dia terus merindukan kampung kelahirannya–suka berkebaya–juga merindu-rindu akan Kesultanan Pontianak-Qadriyah. Dia menyatu dengan perempuan Pontianak selama mendampingi suaminya sebagai Sultan. Anak-anaknya Edith Alqadrie dan Max Yusuf Nico Alkadrie dididik cinta akan Indonesia. Sampai akhir hayat mereka, kecintaan kepada Indonesia tak tertahankan.
