Opini

Nulis Buku Jejak Langkah di Borneo: Reuni Gaya Baru

Nulis Buku Jejak Langkah di Borneo: Reuni Gaya Baru

Demi penerbitan buku, akhirnya saya membuat laporan hoax di grup. Beberapa teman di luar LPM tapi aktif di Club Menulis saya ajak. Tapi, untuk mereka yang telah lulus kuliah. Itu pun kiranya mudah dijangkau. Laporan hoax itu adalah daftar nama yang telah mengirim naskah. Dari 6 nama yang disebutkan, hanya dua yang benar-benar rampung tulisannya.

Hah, cara ini ternyata ampuh. Mereka kewalahan menutupi kenyataan bahwa mereka ingin menulis. Daftar tulisan bertambah. Siapa yang sudah mengirim saya lapor lagi. Akhirnya ada via Japri meminta saya menunggu tulisannya, bahkan saat saya sudah siap booklet, masih ada yang mengirim.

Maka, H-2. Buku pun selesai. Foto sampul buku saya kirim di Grup. Riweh ala Mak-mak pun bermunculan. Mereka tak sabar ingin membacanya. Mereka rindu dengan masing-masing cerita dari anggota lainnya. Maklum, tulisan ini adalah tentang kehidupan setelah kuliah. Apa yang terjadi setelah jarang berkomunikasi.

Saya yang mengetahui sedikit jejak kehidupan mereka saat kuliah, membacanya juga takjub. Ada pilihan-pilihan yang luar biasa yang diambil. Bahkan, tak saya duga.

Walau jarak memisahkan. Kami telah mengumpulkan jejak dalam satu kesatuan kisah. Inilah cara yang pilih untuk reuni kali ini. Buku Jejak Langkah di Borneo adalah gaya kami bereuni.